
Lampung Timur [MP]– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang sebagai upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi anak sekolah justru memicu kegaduhan di Lampung Timur. Sebanyak 34 siswa sekolah dasar diduga keracunan usai menyantap menu MBG.
Data pihak medis menyebutkan, 18 siswa masih dirawat di RSU Dukdana, sementara 16 lainnya menjalani rawat jalan. Gejala yang dialami rata-rata berupa muntah, mual, dan pusing.

Kepala RSU Nila Saraswati memastikan kondisi pasien membaik, namun penyebab pasti belum diketahui. “Kami sudah mengambil sampel makanan dan akan dikirim ke laboratorium rujukan. Hasil uji ini penting untuk memastikan apa penyebab sebenarnya,” ungkapnya, Kamis (26/9).
Dapur penyedia MBG yang melayani sekolah tersebut diketahui berlokasi di Desa Bumi Tinggi. Hal ini memunculkan pertanyaan serius mengenai standar higienitas dan proses pengawasan penyedia makanan. Warga khawatir, jika pengawasan longgar, program yang semestinya menyehatkan justru bisa berbalik membahayakan anak-anak.
Nila, pihak rumah sakit, menegaskan pihaknya sudah berkoordinasi dengan puskesmas untuk memantau siswa rawat jalan. Namun, ia mengingatkan perlunya langkah pencegahan yang lebih sistematis.
Hingga kini, pemerintah daerah belum memberikan keterangan resmi terkait tanggung jawab maupun evaluasi terhadap penyedia katering MBG. Publik mendesak adanya audit terbuka menyangkut dapur pengolahan, proses distribusi, serta mekanisme kontrol yang selama ini diterapkan.
“Ini bukan sekadar soal makanan basi atau tidak, tetapi soal keamanan anak-anak sekolah. Kalau program ini tidak diawasi dengan ketat, bisa jadi ada kelalaian besar di baliknya,” ungkap salah satu wali murid yang enggan disebut namanya.
Kasus ini masih dalam penanganan RSU dan puskesmas setempat. Namun, desakan agar pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh kian menguat, demi mencegah insiden serupa kembali terjadi.
Penulis: Edi s
Editor: Radaksi
Redaksi

Tidak ada komentar