
Lampung Timur — Koordinator Olam Food Ingredients (OFI) unit bisnis kakao, Imam Suharto, menegaskan bahwa kunjungan perwakilan Rockefeller Foundation ke Lampung Timur sebelumnya merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan program pemenuhan gizi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan, dukungan tersebut diberikan kepada tiga SPPG yang berada di wilayah Way Areng, Mataram Baru, dan Sadar Sriwijaya yang menjadi bagian dari penguatan rantai pasok pangan berbasis agroforestri.
Imam mengatakan, kunjungan tersebut juga untuk melihat langsung implementasi model ASC atau Agroforestry Supply Chain yang terintegrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lampung Timur.
Vice President Rockefeller Foundation, Roy Steiner, menilai model ASC MBG yang dikembangkan di Lampung Timur merupakan salah satu praktik baik yang berpotensi diterapkan di wilayah lain di dunia.
“Model ASC–agroforestry supply chain MBG di Lampung Timur ini merupakan salah satu contoh yang akan digunakan sebagai model baik untuk pengembangan program MBG di wilayah kerja Rockefeller Foundation di dunia,” kata Roy.
Dalam kunjungan tersebut, turut hadir perwakilan dari Komite Percepatan Pembangunan Papua yang diwakili staf ahli Andi Muhammad.
Komite tersebut bahkan merekomendasikan agar model yang telah berjalan di Lampung Timur dapat dikembangkan di wilayah Papua.
“Komite merekomendasikan kepada Rockefeller Foundation agar model ini juga bisa dikembangkan di Papua sebagai bagian dari penguatan program gizi dan ketahanan pangan,” ujar Andi.
Sementara itu, Bupati Ela Siti Nuryamah mengatakan saat ini terdapat sekitar 130 SPPG yang beroperasi di Kabupaten Lampung Timur.
Menurut Ela, keberadaan ratusan SPPG tersebut juga berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat.
“Di Lampung Timur ada sekitar 130 SPPG. Dari jumlah itu, perputaran ekonomi dalam satu minggu bisa mencapai lebih dari Rp50 miliar,” kata Ela.
Ia berharap perputaran ekonomi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, baik bagi anak-anak sebagai penerima makanan bergizi maupun warga yang terlibat dalam penyediaan bahan pangan.
Ela juga mengingatkan seluruh pengelola SPPG agar bekerja secara profesional dan menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada penerima manfaat.
“Jangan sampai ada persoalan seperti menu yang tidak sesuai standar MBG atau makanan yang justru membuat penerima sakit perut. Artinya pengelola harus selektif dan teliti dalam menyiapkan menu,” tegasnya.
Penulis: Agus S
Editor: Feri Pradana
Tidak ada komentar